Lupa

Lupa. 

Ya, mungkin lupa. 

Mungkin juga dilupakan. 

Atau mungkin lebih baik kita lupa. 

Karena kita sering  kali lupa bahwa kita lupa. 

AFS

Djakarta

Semesta Bertasbih

Norak. Ya, norak.  Bisa dikatakan seperti itu, oleh mereka yang menganggapnya begitu. Dan inilah takdir itu, sesuatu yang sudah terjadi, sesuatu yang tak bisa diubah lagi. Sudahkah semua tertuliskan? Mungkin benar semuanya sudah ada sebelum tercipta, namun kurasa bukan untuk menjadikannya sebuah ketentuan, namun melebihi makna mengetahui yang hanya milik Maha Mengetahui.

Semua sudah terjadi. Tanpa perduli akan apa yang terjadi, semesta tetaplah bertasbih. Oleh dirimu yang dikuasai amarah, oleh aku yang masih di sini, menunggu untuk meminta maaf. Entah untuk apa aku meminta maaf. Mungkin untuk semuanya, namun tidak dengan yang dirimu aggap salah. Kurasa akan baik-baik saja semua, karena manusia lebih tangguh dari apa yang kau kira, kurasa.

Semua sudah terungkap. Tanpa perduli dengan segala lupa yang pernah ada, nyatanya salah  tetaplah salah. Bukankah bukan tidak pernah aku mengingatkannya? Lalu apa lagi yang akan membuat dirimu marah? Bersembunyi dalam ketidak tahuan memang membuat siapapun nyaman, tapi tuan mengizinkan siapapun yang diiginkannya untuk mengetahuinya.

Semua sudah terlaksana. Tanpa perduli dengan risau yang melanda, kenyataan selalu datang bersama kedamaian bagi mereka yang menginginkan. Bukankah bisa terus kumengancam agar diriku bisa mengatur semauku? Namun itu bukan yang kumau. Karena kebenaran bukanlah karena takut akan kehilanganmu, pun waktu yang semakin kencang berlalu. Dan sadarmu adalah yang kutunggu, bahwa benar ini adalah yang harus dilalui.

Semua sudah menjadi takdir. Tanda perduli dengan ketidak inginanmu menerima kenyataan bahwa begitulah dirimu adanya. Maka biarkanlah semua rasa itu menguap, jangan terus dirimu ganjal dengan perkataan yang kau cari agar sama dengan milikmu. Semoga waktu itu benar ada, di mana ketika kau mampu berfikir dari sudut pandang yang kupunya atau ketika kau memiliki tanggung jawab yang sangat kau cinta. Hanya jika dirimu adalah yang mau menerima hidayah, maka terbukalah semuanya.

Ini adalah akhirnya, dan juga awal dari apa yang kuperjuangkan. Tidak perduli dengan segala penyangkalan, namun mereka haruslah diperingatkan. Ini bukan hanya tentang kamu, tapi tentang manusia yang menganggap bahwa dirinya berhak melakukan apapun yang tidak semestinya, atas nama apapun itu. Semoga benar ini adalah yang baik kuniatkan, namun apalah niat baik tanpa adanya tindakan.

AFS
Karawaci, 27122015

(I)rasional

Katakanlah, Rio, apa yang membuatmu gusar?

Aku hanya sedang ingin diam, Rosa.

Jangan kau pendam sendiri apapun yang kau simpan. Sudahkah dirimu mengatakannya pada Tuan?

Ya. Berulang kali, dan kini tidak lagi aku menahannya mengalir. Diam adalah yang aku pilih untuk menguapkan air mataku ini, kuharap mampu membasahi gersangnya hati mereka yang lupa.

Bukankah lupa adalah urusan manusawi belaka?

Manusiawi bukanlah sebuah alasan, Rosa. Mungkin kau benar akupun lupa, namun tidak lantas membenarkan apapun itu yang kita yakini salah.

Sudahkah dirimu mengingatkannya? Bukankah dengan saling mengingatkan kita adalah benar-benar manusia yang ingin bersyukur?

Belum kering bibirku ini, masih basah ingatanku dengan air mata yang mengambang di pelupuk matanya. Salahkah aku yang membiarkan dirinya bersembunyi di balik risaunya?

Entah. Namun kukira dirimu benar mencintainya. Namun dirimu seharusnya membiarkannya begitu, menangisi dirinya hingga seperti itu.

Ya, aku salah, membiarkan dirinya berpaling dari apa yang harus dirinya hadapi.

Bukankah dirinya telah sadar atas apa yang terjadi?

Entah, mungkin akan terjadi lagi, jika dirinya benar adalah yang membiarkan dirinya hanyut dalam pembenaran atas nama kebiasaan.

Tapi, tidak salah lah dirinya jika benar dirinya bukanlah yang menuruti perintah Tuan.

Tidakkah dirimu melihatnya, setiap getir yang terpancar dalam sujudnya menandakan dirinya adalah yang ingin mendengarkan Tuan?

Hey, siapa lah dirimu, Rio. Hanya Tuan yang tau bahkan isi hatimu sendiri, bahkan milikku dan juga orang lain, termasuk dirinya.

Maaf, aku hanya yakin dengan apa yang kuyakini. Kurasa Tuan telah membisikan kepadaku bahwa benar dirinya begitu adanya.

Ya, hanya jika kau merasa begitu, lantas buktikanlah.

Salahkah aku, Rosa?

Apa yang salah dari mengajak siapapun pada kebaikan? Namun harus lah kau ingat, Rio, tidak semua sadar dengan apa yang dirimu sangka dirimu sadari.

Namun sudah jelas tersurat dalam apa yang kita yakini, jangan kita mendekatinya. Mendekati, Rosa, mendekatinya, bukan melakukannya, kau tau itu.

Ya, aku tau itu. Namun kebiasaan telah membutakan siapapun yang nyaman karenanya. Maka jagalah dirimu sendiri sebagaimana yang engkau inginkan.

Aku ingin dirinya pun begitu, Rosa, dan jangan tanya kenapa, karena kau pun telah mengetahuinya.

Maka biarkanlah dirinya mengetahuinya, sebelum mereka murka karena telah membiarkan tanggung jawabnya tidak bertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Jangan sampai mereka tau, Rosa, aku tak ingin melihatnya menangis.

Jika Tuhan telah berkehendak, maka apa yang bisa dirimu lakukan, Rio?

Aku tidak ingin membuktikannya, bahwa tidak akan terhindari apa yang telah terjadi akan terjadi lagi.

Jangan kau pikirkan hal itu, Rio!

Ya. Maka biarkanlah aku diam, Rosa, menunggu dirinya membiarkan dirinya sadar atas apa yang sudah terjadi, agar tak ingin terjadi lagi.

Hapuslah air matamu, Rio, dan tegap lah seperti yang dirinya katakan.

Terima kasih, Rosa.

 

Selamat sore, Senja, lembayungmu kini mengintip dari balik awan yang menggumpal, benarkah dirimu mendengarkanku?

Jakarta, 09122015

AFS

….

Dan katakanlah wahai senja, janganlah dirimu berbohong pada siapapun, kecuali kepada Tuan yang maha mengetahui lagi maha memberi petunjuk. Karena hanya Tuan lah yang tau sebenarnya dirimu, melebihi siapapun, bahkan dirimu sendiri, dan sebaik-baiknya tempat meminta petunjuk.

Bukan. Bukan hanya kepada mereka yang penting menurutmu. Pada semua, terlebih pada dirimu sendiri. Mungkin kau akan bosan mendengarnya, tapi harus kukatakan, berdamailah, dengan dirimu sendiri agar tenang yang akan kau dapat. Tidak ada yang memaksamu untuk berbohong, dirimulah yang membiarkan begitu adanya. Maka bebaskanlah dirimu dari yang membelenggu, agar tidak lagi dirimu harus berbohong untuk membuatmu tenang. Engkau adalah jiwa yang bebas, sebebas dirimu memilih untuk bersujud pada yang kau mau.

Baik, Tuan, aku akan mengatakannya, hanya jika siapapun ingin mendengarkannya, maka terlaksanalah kewajibanku. Terima kasih, Tuan, tidak mampu kumenampik engkaulah yang maha pemelihara.

Selamat pagi, Senja, dengarkah engkau aku memanggilmu dengan dengan hatiku?

AFS
25112015

Ar Rahman

Terbuat dari apa pagi ini?
Dari mentari yang masih menyinari.
Dari semesta yang terus menari.
Dari senyum yang terhalangi.
Dari rindu yang terobati.

Oh bagaimana tidak, pagi milik 23 November 2015 begitu indah bagi mereka yang menganggapnya begitu. Lihatlah ini, aku yang kembali diingatkan bahwa tidak ada yang diciptakan sia-sia oleh Tuan yang maha tau. Harus kah aku menampiknya bahwa dirinya terus berbicara kepadaku yang melalui apapun itu? Ya, Tuan, aku tau bahwa dirimulah yabg mampu menciptakan segalanya apapun itu. Termasuk mata yang hanya dengan melirik dapat dengab mudah membuatku tersenyum.

Lalu nikmatmu yang mana lagi yang dapat kudustakan jika sakit ini adalah pengobat atas rindu yang kubiarkan berada di sisimu? Terima kasih, Tuan, karena telah mengingatkanku, jangan aku meninggalkanmu, dengan indahmu yang terpancar dari indahnya.

Selamat pagi, Senja. Terima kasih sudah menjadi dirimu.

AFS
23112015

Untitled

Entah. Sungguh aku tidak mengerti. Bahkan pada apa yang kukira kumengerti. Aku buta. Atau, mungkin aku ingin menjadi buta. Mungkin juga lupa. Namun tak ingin aku lupa. Setidaknya untuk apa. Mengapa aku masih berdoa. Mungkin aku sedang ingin lupa. Ya, aku lupa. Lupa pada apa yang kulupa. Lupa bagaimana caranya lupa. Lupa mengapa aku lupa.

Kami

Kita. Adalah pronomina persona pertama jamak, yang berbicara bersama dengan orang lain termasuk yang diajak bicara. Kita? Ya, kita. Entah apa pendapatmu tentangnya. Terserah dirimu bagaimana mengartikannya.

Maafkan lah aku. jika benar diriku begitu, telah membuatmu merasa terganggu. Dengan cintaku, Dengan laku ku. Dengan perhatianku. Dengan hadirku. Hanya jika benar memang begitu. Apa lagi yang bisa kulakukan selain memintanya darimu, maaf yang hanya dirimu yang mampu. Karena aku tidak pernah mau seperti itu. Dan. Sungguh aku tidak pernah meminta. Rasa khawatir itu dariNya. Salahkah aku yang terlanjur seperti itu?

Pernah dirimu bertanya pada siapapun itu. Kini, perbolehkan lah aku bertanya kepadamu. Sejauh mana dirimu mengetahui sebuah kata dalam? Seberapa dalamkah kedalaman yang mampu dirimu bayangkan? Hanya jika dirimu tau mana manakah palung terdalam yang mampu diketahui manusia saat ini, tidaklah sebanding dengan hamparan semestaku yang kini dihuni oleh bayangmu.

Oh sunyi yang telah pergi sekedatangan dirinya nenghuni semestaku, bungkam lah aku, agar tidak lagi berkata, agar bermakna apa yang terlaksana. Seperti bulan yang menerangi malam yang kelam. Seperti yang kulakukan untuknya tadi malam. Yang kuharap mengingatkan dirinya tentang pinta dari dirinya.

Dirimu lah orangnya, yang kini hidup di dalam diriku. Yang mungkin akan terbunuh selepas aku mengetahui sebenarnya dirimu. Tergantikan oleh dirimu sebenar-benarnya dirimu yang merupakan sisi lain dari diriku. Hingga mereka menjadi tau ketika baik kamu ataupun aku mengatakannya, “kami lah yang akan, melangkah sejauh apapun itu, merunduk sedalam apapun itu, melayang setinggi apapun itu, di mana Tuan meletakkan cintanya.”

Haruskah aku menunggu?

Katakanlah jika memang dirimu begitu.

Atau

Bunuhlah aku, di dalam dirimu.

Selamat siang, Senja. Segera lah engkau datang, tuk mengusir rindu yang datang sepeninggalan dirimu.

AFS
Djakarta 13112015